Revolusi Tan Malaka Vs An-nabhani ( Part 1 )


Revolusi bagi bagi Tan Malaka adalah mencipta tatanan baru, bagi An-nabhani membebaskan manusia dari penghambaan dan penghisapan manusia atas manusia.

Untuk kalangan intelektul, akademisi, dan aktivis pergerakan khususnya para aktivis kiri, Tan Malaka merupakan tokoh yang tak asing lagi bagi mereka. Tokoh yang sempat bersetegang dan berdebat langsung dengan tokoh komunis rusia Vladimir Lenin serta pernah juga menyebut Soekarno-Hatta dengan sebutan Banteng Besar Indonesia itu dikenal sebagai bapak republik indonesia. Karena pandangan danĀ  pemikara-nya yang revolusioner itu telah menempatkan dia sebagai tokoh komunis internasional dan indonesia yang diperhitungkan. Salah satu gagasan yang sangat menarik didiskusikan adalah tentang metode perubahan sosial (revolusi) yang dituangkan dalam bukunya Massa Aksi. Dalam buku tersebut dia mengatakan bahwa

“Tujuan revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang negeri, politik, ekonomi dan dijalankan dengan kekerasan”.

Dari pernyataan tersebut dia ingin mengatakan bahwa perubuhan yang fundamental (revolusi) itu mutlak meniscayakan adanya pertentangan kelas (borjuis melawan proletar) dan kontak fisik “violence”.

Dalam perspektif pemahaman ideologi komunis hal itu sudah menjadi metode (thariqah) baku perubahan. Metode tersebut lahir dari pemikiran mendasar (fikrah/aqidah) ideologi komunis yakni dialektika materialisme dan materialisme historis yang dirumaskan Hegel dan Marx. Inti dari pemikiran (dialektika materialisme) adalah bahwa setiap benda, gagasan atau fenomena mengandung dua kebenaran kontradiktif yang akan bertentangan secara terus menerus, saling melenyapkan hingga melahirkan sesuatu yang lebih baru (sintesis). Sedangkan materialisme historis sendiri adalah pengembangan pemikiran dialektika materialisme hingga meliputi kajian tentang kehidupan dalam masyarakat, serta implementasi pemikiran-pemikiran ini terhadap berbagai kasus dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, ia merupakan implementasi pemikiran Materialisme Dialektika terhadap kajian masyarakat dan sejarah masyarakat.

Pertentangan antar masyarakat borjuis dengan proletar merupakan pertentangan kelas yang terakhir, dan mengakhiri proses dialektik. Yakni terbentuknya masyarakat komunis yang tidak mengenal adanya kelas (classes society), dimana masyarakat dibebaskan dari keterikatanya dengan milik pribadi, tidak ada eksploitasi, penindasan, dan paksaan. Masyarakat komunis yang demikian itu dicapai dengan kekerasan dan paksaan.

Dari uraian singkat diatas, kita bisa mengetahui dan tergambar bagaimana pemikiran Tan Malaka sebagi representasi dari tokoh komunis internasionl khususnya indonesia tentang revolusi yang didasarkan pada ide dasar ideologi komunisme (dialektika materialisme dan materialisme historis)[]wak

Iklan

Kalau bukan dengan senjata pena dan tinta apa lagi.?!


” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadiaan”_Pramoedya Ananta Toer

“Pemberontakan yang bergulat dengan sejarah menambahkan bahwa untuk membunuh dan mati untuk menghasilkan kebaradaan yang bukan kita. Kita mempunya untuk hidup dan membuat hidup untuk menciptakan kita apa aja”_Albert Camus

Terlepas dari pemikiran batil marxis yang diemban, mereka berdua bukanlah seorang komandan dan pemimpin perang yang memiliki beribu-ribu prajurit dengan persenjataan lengkap, tapi mengapa ditakuti para pemimpin dan penguasa diktator? kalau bukan dengan senjata pena dan tinta apa lagi? dari goresan dan susunan kata munculah serdadu-serdadu gagasan dan pemikiran perlawanan yang kekuatannya jauh lebih revolusioner dari pada beribu-ribu tentara yang dipersenjatai tank dan berton-ton bubuk mesiu.

Toilet dan Liberalisasi Pendidikan


Belakangan ini isu kampus yang yang paling santer dan ramai diperbincangkan oleh kebanyakan mahasiswa adalah masalah buruknya fasilitas kamar mandi dan toilet di lingkungan kampus. Sampai-sampai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM KM) bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan yang lain merasa perlu untuk mengadvokasi ke institusi. Mereka menuntut agar institusi memperhatikan masalah tersebut karena hal itu dirasa menganggu proses belajar mengajar.

Antusias mahasiswa akan permasalahan tersebut bisa dikatakan sangat tinggi karena secara keseluruhan mahasiswa merasakan dampaknya secara langsung sehingga mereka menuntut haknya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa masalah tersebut merupakan bagian kecil dari persoalan besar yang dampak dan pengarunya sangat besar. Namun sampai saat ini mahasiswa bahkan BEM KM sekalipun yang punya keterwakilan di Majelis Wali Amanat (MWA) belum pernah membahasnya di publik atau pun mengkritisinya yakni status hukum IPB setelah pembatalan UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi. Apakah statusnya tetap sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang syarat dengan liberalisasi, komersialisasi, dan privatsiasi atau kembali ke asal yakni sebagai Perguruan Tinggi (PT).

Belum lagi kebijakan IPB menuju World Class university dengan mengubah nama Institut Pertanian Bogor dengan Bogor Agricultural University dengan itu jangan heran kalau misalnya institut tercinta ini tak lagi punya core kompetensi dalam bidang pertanian dan lebih memilih membuka jurusan baru diluar pertanian yang menguntungkan sesuai dengan pangsa pasar.

kenapa kita harus membahas dan mengkritisi hal itu, sebab itu sangat berpengaruh terhadap seluruh kebijakan kampus mulai dari kurikulum (mayor-minor), biaya perkulihan sampai termasuk masalah (toilet) dan itu terkait dengan kebijakan fasilitas kampus. Permasalahan dan kebijakan diatas merupakan salah satu bentuk liberalisasi dan privatisasi sektor pendidikan yakni upaya untuk membatasi peran pemerintah baik dalam pendanaan atau pun pengelolaan sehingga memberikan peluang dan kesempatan kepada swasta untuk mengelola dengan berorientasi pada keuntungan materi.

Di dalam sistem pendidikan islam, liberalisasi dan privatisasi sektor pendidikan tidak diperbolehkan. Hal itu tanggung jawab Negara untuk mengelola dan mendanainya sehingga setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa memandang si kaya dan si miskin.

Oleh karena itu terlalu dangkal dan naif jika kemudian kekritisan mahasiswa hanya ditunjukan kepada persoalan yang hanya bersifat parsial (toilet) tanpa memperhatikan persoalan yang menyeluruh dan mendasar yakni upaya liberalisasi, komersialisasi, dan privatisasi sektor pendidikan produk sistem kapitalis.[]wh

Mahasiswa Target Pasar Para Kapitalis


Mahasiswa hari ini adalah salah satu target pasar yang menggiurkan bagi sekelompok kapitalis yang mengkomodifikasikan gaya hidup, seolah ingin mengkerdilkan sense of crisis mahasiswa agar apatis terhadap dinamika sosial dilingkungan sekitarnya. Oleh karena itu perlu …inisiatif dari mahasiswa elitis (aktivis) untuk memberikan pencerahan bagi teman-temannya yang terjebak dalam budaya hedonisme yang konsumtif, sehingga bisa mengkonsolidasikan diri sebagai kekuataan moral sekaligus politik untuk melakukan kontrol dan koreksi terhadap roda pemerintahan.

Kehidupan dunia semakin mengarahkan manusia untuk memenuhi hasratnya tanpa batas, tak terkecuali mahasiswa. Dalam kehidupan mahasiswa IPB, mahasiswa begitu banyak mendapat tawaran untuk memenuhi hasrat yang hadir dan berganti begitu cepat, baik yang berupa materi kongkrit ataupun hanya sesuatu berupa imajinasi yang dapat memenuhi kepuasan batin manusia dan tanpa kedalaman makna.

Konser musik lebih ramai dibandingkan dengan pengkajian atau forum diskusi. Fetisisme pun menjangkit paradigma mahasiswanya, mereka berlomba-lomba mendapatkan nilai bagus tanpa mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dan pengaplikasian nilainya itu dalam lingkunganya, seminar-seminar ramai dikunjungi untuk mendapatkan sertifikatnya. Ruang-ruang kampus tidak ubahnya seperti shop display. Disatu sisi mahasiswa didalamnya lebih senang menampilkan gaya bicara, gaya pakaian (mahasiswa tidak ubahnya dengan patung-patung di toko pakaian yang mempublikasikan model pakaian yang sedang populer), gaya handphone, parade mobil mewah ketimbang mengejar pengetahuan dan mengaplikasikannya.

Sedangkan di pihak lain, tenggelam dalam mengejar tugas, nilai, dan kelulusan, tetapi tidak punya waktu dan keinginan untuk bersosialisasi dan bergaul di dalam kehidupan nyata (sosial kampus, politik kampus ataupun bahkan spiritual).Berkata memperjuangkan nasib rakyat tetapi masih bergaya hidup hedon. Membela pendidikan tetapi sekaligus tidak menghargai pendidikan, misalnya datang sangat terlambat ketika perkuliahan, suka berkelahi/tawuran dan mengandalkan pembawaan hewaaniah (otot, jumlah masa, pengumbar hasrat dalam gaya hidup) tanpa mengandalkan pembawaan manusiawi (nalar).

Lingkungan mahasiswa tidak ubahnya sebuah tempat isolasi, di satu pihak, untuk mencari nilai, gelar dan kelulusan; di pihak lain kepuasaan, keterpesonaan dan kesenangan, dan tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan aspek-aspek kemanusiaan lainnya: intelektualitas, produktivitas, sosialitas. Entah disadari atau tidak oleh pelakunya. Di dalam mengonsumsi pengetahuan dan berbagai gaya hidup, ia menjadi mayoritas yang diam (the silent majorities), yang hanya dapat menyerap segala sesuatu, tanpa mampu menginternalisasikan dan memaknainya.

Organisasi-organisasi internal kampus seperti BEM, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan UKM tidak lebih seperti event organizer, karena hanya dijadikan alat untuk depolitisasi didalam kampus sehingga tidak ada kekuatan penyeimbang terhadap kebijakan kampus dan fakultas yang tidak populis di mata mahasiswa.

Founding father kita pernah berkata bahwa kampus adalah republik berpikir bebas namun saat ini telah terjadi desakralisasi pada kampus dimana seharusnya kampus menjadi laboratorium pemikiran dan salah satu sumber kepemimpinan telah mati suri karena banalitas budaya, kering akan kegiatan penelitian dan diskusi ilmiah serta minimnya advoaksi terhadap masyarakat, seakan Tri Dharma Perguruan tinggi hanya dijadikan sebuah jargon.

KOM : Selamat tinggal kawan (red: BEM, UKM, Himpro kabinet event organizer) yang melahirkan mahasiswa organizer yang kering akan pergerakan.